7 Banksawan

id.wikipedia.org
A. R. BASWEDAN :
 NOTA DIPLOMASI DIKAOS KAKI

A. R. Baswedan yang keturunan Arab, ikut ambil bagian dalam sejarah perjuangan bangsa ini mempertahankan kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, selain mempertahankan wilayah Indonesiadari tentara belanda yang ingin kembali merebutnya, tugas yang tidak kalah pentingnya adalah memperoleh pengakuan internasional.

Konferensi Liga Arab di Kairo Mesir 18 November 1946 menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia dan menyerukan kepada negara-negara Arab agar memberikan pengakuan kepada Republik Indonesia.Untuk menindaklanjuti hal ini, sebuah delegasi yang dipimpin Mentri Muda Luar Negri H Agus Salim berangkat ke Timur Tengah dan tiba di Kairo 10 April 1947.

dejavaraditya.wordpress.com
 Waktu itu Indonesia belum mengeluarkan paspor, mereka berangkat dengan berbekal secarik kertas “Surat keterangan jalan”. Didalam tim ini terdapat Abdul Rahman Baswedan (sering disingkat A.R. Baswedan), Mentri Muda Penerangan. Mereka melakukan lobi terlebih dulu kepada Sekjen Liga Arab, kelompok Ikhawanul Muslimun, Koran terbesar di Kairo, Al Ihram, dan banyak pihak di Mesir sebelum akhirnya diterima Mentri Luar Negeri Mesir pada tanggal 10 Juni 1947. Sementara itu pelajar Indonesia di Mesir menerjemahkan lagu Indonesia Raya ke dalam bahasa Arab.


Disembunykan di kaos kaki 
Sebelum delegasi ini bertemu dengan Mentri Luar Negri Mesir, Nokrashi Pasha, duta besar Belanda di Mesir bergegas masuk. Ia mengajukan protes bahwa Indonesia masih berada di bawah kekuasaan Belanda dan kini negeri ini dipimpin oleh “ekstremis boneka jepang”. Dengan wajah kecut sang Dubes keluar dari ruangan Mentri Luar Negri Mesir, ternyata ia tidak berhasil meyakinkannya. 

“Pengakuan Mesir terhadap Kedaulatan Republik Indonesia” ditandatangani oleh Menteri Luar Negri Nokrashi Pasha mewakili Mesir dan Menteri Muda Luar Negeri H. Agus Salim mewakili Indonesia. Naskah pengakuan itu merupakan yang pertama yang diberikan Negara asing terhadap Indonesia.

Dokumen ini perlu disampaikan kepada pemerintahan Indonesia di Yogyakarta sedangkan misi di Timur Tengah belum selesai. Itulah sebabnya A. R. Baswedan harus pulang sendiri membawa surat penting tersebut, sementara anggota delegasi yang lain meneruskan perjalanan ke berbagai negara. H. Agus Salim berkata, “Baswedan bagi saya tidaklah penting apakah saudara sampai Tanah Air atau tidak, yang penting dokumen-dojumen ini harus sampai di Indonesia dengan selamat”.

Perjalanan pulang itu tidak mudah, transit di Bahrein, Karachi, Calcutta, Rangon dan Singapura. Di Calcutta kursinya sempat diduduki penumpang lain, untunglah Baswedan tidak kalah gertak, sehingga orang itu pindah. Di Singapura Baswedansempat tertahan sebulan (menunggu situasi di Tanah Air setelah adanya ultimatum Van Mook) sehingga bekalnya habis. Untunglah ia dibantu oleh dua orang Singapuraketurunan Arab yang membelikan tiket ke Indonesia tanggal 13 Juli 1947.

Agar selamat dari pemeriksaan, Baswedan menyembunyikan dokumen berharga di dalam kaos kakinya. Di Bandara Kemayoran Jakarta, Baswedan dengan berdoa lolos dari pemeriksaan imigrasi Belanda, ia langsung mencari taksi dan pergi kerumah Amir Sjarifuddin yang mengantikan Sjahrirsebagai Perdana Menteri. Dengan kerata api baswedan berangkat ke Yogyakarta dan sesampai di kota ini dokumen ini langsung diserahkan kepada Presiden Soekarno di Gedung Agung.Sementara rombongan H. Agus Salimbaru pulang ke Tanah Air bulan November 1947 setelah mendapatkan pengakuan dari tujuh Negara Arab dan Afganistan.
 
Keturunan Arab yang Nasionalis
Abdul Rahman Baswedan lahir di kampung Ampel Surabaya 9 September 1908 dan Wafat 16 Maret 1986 di Jakarta. Ia menempuh pendidikan madrasah di lingkunga warga keturunan Arab. Sejak bersekolah di Surabaya ia sudah kritis, ketika berkunjung seorang tokoh penting dari Batavia, kepala sekolah memerintahkan agar semua siswa mengenakan sarung untuk menyambut tamu tersebut. Namun Baswedan beranggapan bahwa tidak ada salahnya menerima seseorang dengan memakai celana panjang. Akhirnya ia mengurung diri di dalam kamar, tidak mau keluar sampai acara itu selesai.

Sebelum Indonesia merdeka, masyarakat asal Arab di Nusantara itu terbagi atas ulaity (lahir di Arab) dan muawallad (lahir di Indonesia). Secara stratifikasi social mereka terdiri dari atas sayyid (keturunan Nabi Muhammad SAW), qabili (keturunan panglima perang), syeikh (keturunan alim ulam, baswedan termasuk kelompok ini) dan dhu’afa. Secara kewarganegaraan mereka tergolong Timur Asing berada di tengah antara orang Eropa dan pribumi atau inlander.

Meskipun politik segregasi yang dilakukan Belanda masih tersisa dampaknya di pulau Jawa, Baswedan tidak mau terkungkung oleh lingkungan sempit. Ia juga bergaul dengan kalangan Tionghoa dan ditawari menjadi redaktur Koran Sin Tit Po di Surabaya oleh Liem Kun Hiandengan gaji yang lumayan (75 gulden, senilai 15 kuintal beras). Ia mengasuh pojok yang berjudul “Abun Awas” yang banyak menyindir pemerintahan Hindia Belanda.

Rupanya perusahaan besar pemasang iklan di Koran tersebut keberatan dengan kritik tersebut, sehingga Baswedan terpaksa hengkang dari sana dan beralih ke surat kabar SoearaOemoem yang dipimpin Dr Sutomo. Hanya setahun disini, Baswedan pindah ke Semarang bekarja di koran Matahariyang dipimpin oleh Kwee Hing Tjat. Pada artikel “ Peranakan Arab dan totoknya”, Baswedan tampil memakai surjan dan blangkon sehingga menghebohkan masyarakat keturunan Arab.

Tahun 1932, orang-orang Belanda di Surabaya mendirikan sepak bola. Para aktivis pergerakan berusaha menandingi walaupun secara berolok-olok. Ketika klub Belanda melakukan pertandingan Jaarmarkt (sekarang jadi lokasi THR Surabaya) mereka membuat acara tandingan di lapangan Koblen. Ribuan orang tersedot kesini. Ini pertandingan dagelan, pemain lari dengan napas kembang kempis, ada pemain tiga kali menendang bola dua kali luput, ada juga yang sewaktu menendang malah terjatuh sendiri. Liem Kun Hian dan Baswedan ikut bermain. Seusai pertandingan diadakan pasar malam rakyat.

nabilfoundation.org

Sumpah Pemuda Keturunan Arab
Upaya untuk mempersatukan masyarakat keturunan Arab pernah dilakukan MBA Alamudi, namun gagal. Baru 4 Oktober 1934, Baswedan berhasil mengumpulkan generasi muda keturunan Arab dan mengeluarkan sumpah pemuda keturunan Arab yang berbunyi
1. Tanah Air peranakan Arab adalah Indonesia.
2. Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri.
3. Peranakan Arab memenuhi kewajibanya terhadap Tanah Air dan Bangsa Indonesia.

Kemudian dibentuk organisasi PAI (Persatuan Arab Indonesia) yang kemudian menjadi Partai Arab Indonesia. Baswedan menjadi Ketua organisasi ini. Ia bersama seorang rekan membuat mars PAI yang menggambarkan nasionalisme mereka.
“Wahai putra Arab Indonesia.
Bersatulah mencari bahagia.
Di dalam persatuan Arab-Indonesia
Teguhkan Perkuatkan dia.”
….
….
“Indonesia ! Semboyan Persatuanku
Indonesia ! Tanah Tumpah Darahku
Persatuan ! Arab Indonesia
Makin lama makin bersetia
Kita tetap setia.”

Mengurus organisasi ini berarti Baswedan kehilangan gaji yang lumayan dari surat kabar Matahari yakni 125 gulden perbulan (setara dengan 25 kuintal beras). Ia tetap berkeliling Jawa menanamkan nasionalisme dikalangan keturunan Arab. Secara historis, tampaknya ada dua jalur yang ditempuh oleh masyarakat keturunan Arab tersebut yakni melalui organisasi politik atau melalui dakwah keagamaan. Kencendrungan mempunyai identitas sebagai diaspora Arab beralih menjadi salah satu bagian/kategori umat Islam di Indonesia.

Upaya pendidikan masyarakat terutama kalangan Arab dilakukan juga melalui pertunjukan sandiwara, diantaranya tonil “Fatimah” atau tonil “Kurban Adat”. Baswedan sendiri menulis tonil “Mr. Faisal” yang mempunyai kisah sederhana. Pesan yang disampaikanya adalah “boekan darah jang mentjiptakan perasaan tjinta kepada bangsa dan tanah air, tapi semata-mata pendidikan”.



Sehari-hari berbahasa Jawa
Semasa penjajahan Jepang, radio masyarakat disegel agar tidak dapat mendengar selain dari siaran Jepang. Namun Baswedan membuka segel tersebut dan dapat mendengarkan siaran asing untuk didiskusikan dengan para aktivis pergerakan lainnya. Suatu ketika ia ditangkap karena perbuatan ini dan dibawa kemarkas Kempatai dan akan dijatuhi hukuman tembak. Untunglah saat itu datang Mr. Singgih yang bekerja pada Pusat Tenaga Rakyat yang dipimpin Soekarnodan mengatakan bahwa Baswedan adalah anak buahnya sehingga dibebaskan.

Tahun 1945 diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan(BPUPK).  Dalam rapat BPUPK tanggal 11 Juli 1945, Baswedanmengatakan orang Arab sudah datang ke Nusantara sejak lima abad silam, namun diantara mereka memungkinkan hanya kenal tiga sampai empat generasi ke atas, sementara angkatan sebelumnya sudah lenyap dan “meresap di dalam bangsa Indonesia”.

“Jangan rumah tangga peranakan Arab totok sendiri tidak ada yang mengunakan bahasa Arab sebagai bahasa pergaulan. Saya sendiri di dalam rumah tangga berbahasa Jawa sebab istri saya berasal dari Jawa Timur, tetapi mendidik kebangsaan Indonesia, saya memakai bahasa kebangsaan Indonesia sekarang”.

“Oleh sebab itu, buat sementara, selama masih disebut golongan Arab, saya masih mempergunakan disini perkataan golongan Arab, sampai nanti negara berdiri, dan  mereka kelak dianggap bangsa Indonesia, karena tidak ada lagi golongan Arab, melainkan mereka itu termasuk bangsa Indonesia”.

Tanggal 15 Juli 1945 Baswedan kembali menegaskan, “saya telah memberi penjelasan bahwa tidak ada seorang pun daripada peranakan Arab yang mengini, mencita-citakan kerakyatan laindari pada kerakyatan Indonesia.”Baswedan menambahkan, tahun 1936 pernah datang seorang profesor terkenal yang ingin membangkitkan rasa ke”Arab”-an itu dengan mengundang beberapa tokoh untuk belajar ke Irakyang dianggap sebagai Negara Arab modern selain Mesir. Beberapa orang berangkat dan kembali setelah tamat atau setengah tamat, dan mereka sama sekali tidak mau menetap di Irak.

A.R. Baswedan melewatkan hari tuanya di Yogyakarta. Ia menjadi pelindung Teater Muslim dan pendukung Pecinta Musik Muslim Yogyakarta, pernah membantu Rendra ketika mementaskan “Kasidah Barzanji” dan bergaul dengan para seniman. Dirumahnya terdapat perpustakaan pribadi sebanyak 5.000 buku yang bisa dimanfaatkan oleh para mahasiswa yang memerlukan.

Ia akrab dengan dr. Yap Kie Tong pendiri rumah sakit mata Yap di Yogyakarta. Baswedan juga dekat dengan dua orang pastor Mangunwijaya dan Dick Hartoko, Tatkala mendengar berita ia masuk rumah sakit karena penyakitnya semangkin parah, Dick Hartoko yang akan memimpin misa di Gereja Kota Baru Yogyakarta meminta kepada para jemaat mendoakan kesembuhan AR Baswedan. Tiga hari setelah ia wafat , Mangunwijaayadatang dari Yogyakarta ke TPU Tanah Kusir Jakarta untuk berziarah.

Pada daftar pahlawan nasional yang kini berjumlah 150 orang sudah terdapat seorang etnis Tionghoa yakni John Lie yang diangkat tahun 2009, namun belum ada seorang pun warga keturunan Arab. A.R. Baswedan memenuhi syarat untuk itu.

Sumber  : Intisari, 581.  Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI.
    Video : Metro Tv.com


 

Categories:

Leave a Reply